Sunday, August 26, 2012

Konsep Revegetasi untuk tambang

Tambang :::::
Banyak kaum ekologis sangat menetnang aktivitas ini karena disinyalir bagaimanapun lapisan tanah yang terbuka beserta keanekaragamana hayati tidak adakan pernah kembali seperti semula. Konsep Buble Gum Economy atas dampak aktivitas ini selalu terus dan berulang-ulang. Selama umur tambang masih ekonomis tentu saja geliat ekonomi warga di sekitar tambang sangat kelihatan progressnya dengan indikator Peningkatan tajam pendaptan per KK. Namun apa daya setelah tambang tutupsemua aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan tambang yang notabene warga di sekitar tambang sudah terlanjur adict (candu) terhadap tambang menjadi ikut tergerus.

 Resource yang terkutas akibat adanya tambang ini memiliki resiko tersendiri. Perhitungan nilai  langsung SDA yang rusak  memang bisa dihitung nilai kerugiannya apabila sudah memiliki nilai pasar seperti nilai kayu yang hilang, harga tanah yang rusak dan lahan pertanian yang terkonversi dll. Namun ironisnya sering kali perhitungan seperti ini tidak bisa secara holistik menghitung nilai kerugian. Ada nilai-nilai yang tidak memiliki mekanisme pasar (unmonetery) sehingga harus dilakukan valuasi ekonomi. misal : Nilai hutan yang berfungsi sebagai pengatur iklim mikro, penyedia unsur hara, pengatur daur hidrologis, pelindung bencana alam dll yang nilainya bisa beratus bahkan beribu-ribu kali lipat jika dibandingkan dengan nilai (value) yang sudah memiliki nilai pasar.


Untuk mengembalikan fungsi hutan yang tidak ada pasarnya diatas  , salah satu soulsi yang ditawarkan sampai saat ini dimana Sudah jamak tertulis dalam setiap dokumen linkungan khususnya tambang adalah kewajiban revegetasi bagi lahan yang akan mine out

revegatasi dimaksudkan untuk mengembalikan hijauan yang hilang akibat aktivityas tambang yang menggunakan open pit (tambang terbuka dengan lubang besar menganga). Setelah ditimbun kembali (reklamasi) maka pihak penambang wajib melakukan revegatasi .

Secara sederhana revegtasi adalah aktivitas menanam kembali beberapa jenis tumbuhan perintis (cover crop) yang diikuti tanaman pohon perintis  keras seperti akasisa, sengon , lamtorogung dll sehingga diharapkan flora yang sebelumnya habis bisa tergantikan dengan jenis ini. Logikanya memang hijauan akan kembali menutupi lahan bekas tambang tetapi apakah pohon jenis ini secara nature merupakan tanaman lokal di lahan trsebut. Secara prinsip keankeragaman hayati seharusnya pengembalian revevegtasi harusnya tidak hanya mengembalikan hijauan tetapi juga mengembalikan jenis flora yang ada sebelun ditambang akan secara otoamtis fauna yang bermigrasi akan kembali dan keanekaragaman hayati menjadi seimbang kembali.

Namun apa lacur, mekanisme perhitungan jenis flora hampir-hampir tidak pernah dilakukan kalaupaun ada itu hanya sobekan kertas berulang-ulang yang tertera di dokumen lingkungan (AMDAL atau UKLUPL) yang secara ilmiah teknisk inventarisasinya sngat diragukan. Perlu diktahui bahwa untuk inventarisasi 1 ha lahan saja memerlukan waktu setahun untuk inventrasisasi lengkap. Banduingkan dengan dokumen AMDAL yang hanya 6 bulan penyusunannya bisamengcover bratus bahwan beribu hektar lahan yang akan ditambang. Apakah ini rasional.

Finally, konsep revegetasi ini secara ektrem harus dihilangkan biarkan alam yang merevegetasi sendiri.Kita hanya benar-benar dengan sungggu-sunguh mereklamasi lahan dengan menaburi top soil dilapisan atas timbunan tanah. Bukankan   Alam sudah memiliki benih-benih flora yang invisible yang nantinya akan tumbuh kembali di lahan tersebut. Bantuan angin  dan burung akan menghutankan kembali lahan bekas tambang karena kita tahu alam akan bisa menyeimbangkan dirinya senidir jauh lebih smart dan wise jika dibandngkan manusia.Secara cepat kita bisa melihat bagaimana secara ektrem  hancurnya alam setelah gunung meletus , dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun hutan yang terbakar akan kembali seperti semula. Burung-buurung kembali berkicau, kijang dan harimau hutan kembali berlari. Memang alam lebioh pintar dan bijak jika dibandingkan sebaik-baiknya konsep manusai dalam hal ini konsep revegtasi konvensional by human.

(eddy ej/27-08-2012)

No comments: